
Fenomena teror pocong kembali merebak di sejumlah daerah dan menjadi perbincangan luas di media sosial. Berbagai video yang menampilkan sosok menyerupai pocong beredar secara masif, mulai dari aksi iseng untuk konten hingga rekayasa berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sulit dibedakan dari rekaman asli. Fenomena ini memicu keresahan masyarakat dan mendorong aparat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran informasi menyesatkan.
Dalam beberapa kasus, sosok pocong yang muncul di jalanan atau permukiman ternyata merupakan bagian dari konten hiburan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik. Namun perkembangan teknologi AI membuat sebagian video semakin sulit diverifikasi sehingga memunculkan spekulasi dan ketakutan di masyarakat.
Pakar komunikasi digital menilai kemajuan teknologi generatif memungkinkan seseorang menciptakan video yang tampak realistis tanpa harus melakukan kejadian nyata. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran hoaks maupun konten manipulatif yang dapat memicu kepanikan sosial.
Fenomena tersebut juga menunjukkan tantangan baru dalam literasi digital. Masyarakat diimbau tidak langsung mempercayai video yang beredar tanpa melakukan verifikasi melalui sumber terpercaya. Pemeriksaan metadata, sumber unggahan, dan konteks kejadian menjadi langkah penting sebelum menyebarkan informasi lebih lanjut.
Sejumlah pemerintah daerah dan aparat keamanan telah mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum jelas kebenarannya. Selain berpotensi menciptakan keresahan, penyebaran informasi palsu juga dapat mengganggu ketertiban masyarakat.
Pengamat teknologi menilai edukasi mengenai kecerdasan buatan perlu diperkuat karena kemampuan AI dalam menghasilkan gambar dan video realistis terus berkembang. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan masyarakat membedakan fakta dan rekayasa menjadi semakin penting. Fenomena teror pocong menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara kreatif sekaligus berpotensi menimbulkan dampak sosial jika digunakan tanpa tanggung jawab.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

