
Nilai tukar rupiah kembali menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada perdagangan Kamis (9/7), di tengah meningkatnya permintaan investor terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan rupiah, sejumlah mata uang utama Asia seperti yuan China dan yen Jepang justru mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik karena didukung sentimen domestik maupun statusnya sebagai aset aman (safe haven).
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi global dan memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga mayoritas mata uang negara berkembang mengalami tekanan. Namun, pelemahan rupiah tercatat lebih dalam dibandingkan sebagian besar mata uang Asia lainnya.
Sementara itu, yuan relatif stabil karena mendapat dukungan dari kebijakan otoritas moneter China yang terus menjaga stabilitas pasar keuangan serta nilai tukar mata uangnya. Di sisi lain, yen Jepang kembali diminati investor berkat statusnya sebagai salah satu mata uang safe haven yang biasanya menguat ketika ketidakpastian global meningkat. Perbedaan karakteristik tersebut membuat kinerja kedua mata uang itu lebih baik dibandingkan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Selain dipengaruhi sentimen global, pergerakan rupiah juga masih dibayangi faktor domestik. Pelaku pasar mencermati perkembangan arus modal asing di pasar keuangan Indonesia, kondisi likuiditas, serta dinamika pasar saham setelah Indonesia masuk dalam daftar pemantauan (watchlist) S&P Dow Jones Indices. Faktor-faktor tersebut turut memengaruhi minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah.
Di tingkat global, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang Asia. Ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama, ditambah meningkatnya risiko geopolitik, membuat permintaan terhadap dolar tetap kuat. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang lebih sensitif terhadap arus keluar modal asing.
Analis menilai volatilitas di pasar valuta asing masih berpotensi berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda. Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, arah konflik geopolitik, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Sementara itu, mata uang seperti yen dan yuan diperkirakan tetap memperoleh dukungan dari faktor domestik dan meningkatnya permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.



