
JAKARTA, INDONESIA TERKINI – Upaya pemerintah dalam memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional agar mampu keluar dari kisaran historis 5 persen dan melesat menuju target 6 persen ke atas menghadapi ujian struktural yang tidak ringan pada Rabu (26/8/2026). Mengandalkan mesin pertumbuhan konvensional semata dinilai tidak lagi mencukupi, sehingga aktivasi mesin-mesin pertumbuhan baru (new growth engines) menjadi prasyarat mutlak untuk membawa Indonesia menuju status negara maju.
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen menuntut transformasi menyeluruh pada sisi penawaran (supply side) maupun sisi permintaan (demand side). Peningkatan produktivitas modal, revitalisasi sektor manufaktur bernilai tambah tinggi, penguatan daya beli kelas menengah, serta efisiensi belanja investasi menjadi fondasi utama dalam menopang trajektori pertumbuhan jangka panjang.
Mengidentifikasi Mesin Baru: Hilirisasi Lanjutan, Ekonomi Hijau, dan Digital
Untuk mendongkrak PDB menembus level 6 persen, Indonesia perlu memperluas diversifikasi penggerak ekonomi. Hilirisasi sumber daya alam yang sebelumnya bertumpu pada nikel harus diperluas secara terintegrasi ke komoditas mineral lain seperti bauksit, tembaga, dan timah, hingga ke sektor agromaritim seperti kelapa sawit, rumput laut, dan perikanan tangkap modern.
Selain hilirisasi fisik, pilar ekonomi hijau melalui pengembangan ekosistem rantai pasok baterai kendaraan listrik (electric vehicle), kredit karbon (carbon trading), dan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) diposisikan sebagai magnet baru penarik penanaman modal.
Di sektor teknologi, adopsi kecerdasan buatan (AI), pusat data (data center), serta digitalisasi rantai pasok UMKM menjadi motor pendorong efisiensi produktivitas nasional.
Sinergi ketiga sektor ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah domestik (domestic value creation) yang jauh lebih besar dan berkelanjutan.
Menurunkan ICOR: Tantangan Efisiensi Biaya dan Produktivitas Investasi
Salah satu batu sandungan terbesar dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi adalah tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di kisaran 6 hingga 7 poin. Angka ICOR yang tinggi mencerminkan bahwa penambahan modal investasi di tanah air belum menghasilkan output pertumbuhan PDB yang optimal akibat inefisiensi logistik, biaya perizinan, dan rantai pasok yang berbelit.
Tantangan utama ke depan adalah menekan angka ICOR menuju level yang lebih kompetitif di kisaran 4 hingga 5 poin, setara dengan negara-negara industri maju di kawasan Asia.
Penurunan ICOR membutuhkan kepastian regulasi hukum, pemangkasan biaya logistik pelabuhan dan transportasi darat, serta penataan tata ruang perindustrian yang terintegrasi.
Tanpa perbaikan efisiensi modal, derasnya arus investasi modal (capital inflow) akan kehilangan daya ungkitnya dalam menggerakkan pertumbuhan riil.
Merevitalisasi Manufaktur dan Memperkuat Daya Beli Kelas Menengah
Tantangan lain yang perlu diatasi adalah fenomena deindustrialisasi dini (premature deindustrialization), di mana kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB sempat mengalami stagnasi. Padahal, sektor manufaktur merupakan penyerap tenaga kerja formal terbesar yang mampu menciptakan upah layak dan memicu efek pengganda (multiplier effect) ke sektor jasa.
Pemerintah dituntut merumuskan insentif fiskal dan non-fiskal yang tepat guna membangkitkan kembali industri tekstil, garmen, kimia, elektronik, serta otomotif.
Penguatan industri padat karya dan padat modal secara seimbang sangat krusial untuk menjaga ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang lebih dari 53 persen total PDB.
Daya beli kelompok kelas menengah yang mengalami tekanan biaya hidup perlu dilindungi melalui penciptaan lapangan kerja formal, stabilisasi inflasi pangan, serta jaring pengaman sosial yang adaptif.
Peran Sinergis Fiskal, Moneter, dan Superholding Investasi Danantara
Akselerasi target pertumbuhan 6 persen juga memerlukan harmoni bauran kebijakan makroekonomi antara otoritas fiskal dan moneter. APBN diarahkan untuk memprioritaskan belanja infrastruktur konektivitas, ketahanan pangan, dan perbaikan kualitas pendidikan vokasi agar suplai tenaga kerja selaras dengan kebutuhan industri modern.
Di sisi moneter, Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi sambil memberikan ruang pelonggaran likuiditas makroprudensial bagi sektor-sektor prioritas.
Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjadi instrumen baru yang sangat strategis untuk mengonsolidasikan aset BUMN dan menggalang pendanaan modal campuran (blended finance) dari investor global.
Danantara bertindak sebagai katalisator investasi yang mampu mendanai proyek-proyek infrastruktur berskala mega tanpa terlalu membebani ruang fiskal utang negara.
Mengejar target pertumbuhan ekonomi 6 persen menuntut komitmen bersama dalam mengatasi berbagai inefisiensi struktural dan mengoptimalkan mesin-mesin pertumbuhan baru. Melalui penekanan angka ICOR, percepatan hilirisasi bernilai tambah tinggi, revitalisasi sektor manufaktur, serta penguatan peran Danantara dan konsumsi domestik, Indonesia memiliki modalitas yang kuat untuk memutus rantai middle-income trap menuju lompatan ekonomi yang berdaya saing global.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.




