
Presiden Prabowo Subianto menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberi dampak besar terhadap perputaran ekonomi di tingkat desa. Pemerintah menghitung uang yang beredar dari pelaksanaan program tersebut dapat mencapai Rp 10,8 miliar per desa setiap tahun.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Menurut kepala negara, MBG tidak hanya berfungsi meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang melibatkan petani, peternak, hingga pelaku UMKM desa.
Prabowo menjelaskan simulasi perputaran dana tersebut berasal dari asumsi 3.000 penerima manfaat MBG di satu desa dengan nilai anggaran Rp 15.000 per porsi makanan. Dengan skema itu, dana yang beredar setiap hari diperkirakan mencapai Rp 45 juta. Jika dihitung selama 20 hari dalam sebulan, nilai perputaran uang mencapai sekitar Rp 900 juta atau setara Rp 10,8 miliar dalam setahun.
Menurut Prabowo, angka tersebut jauh lebih besar dibanding rata-rata dana desa yang selama ini berkisar Rp 1 miliar per tahun. Ia menilai dampak ekonomi MBG akan langsung dirasakan masyarakat karena kebutuhan pangan program dipasok dari lingkungan desa sendiri sehingga rantai distribusi menjadi lebih pendek.
Presiden juga menyebut skema tersebut akan membuka pasar baru bagi hasil produksi masyarakat desa. Produk seperti telur, ikan lele, tempe, sayuran, hingga komoditas pangan lain dinilai akan terserap langsung oleh kebutuhan program MBG setiap hari.
Selain memperkuat MBG, pemerintah juga tengah mempercepat pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai pusat distribusi kebutuhan masyarakat dan penguatan ekonomi kerakyatan. Prabowo menilai kombinasi MBG dan koperasi desa dapat menjadi fondasi kebangkitan ekonomi nasional berbasis desa.
Meski demikian, Prabowo mengakui program berskala nasional tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan pelaksanaan. Pemerintah menegaskan akan melakukan pengawasan ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan dalam implementasi program di daerah.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

