
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam kondisi stabil meski mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Perry, tingkat pelemahan rupiah masih terjaga dan relatif sebanding dengan mata uang negara berkembang lainnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di kisaran Rp17.333 per dolar AS pada perdagangan hari itu.
Perry menegaskan pelemahan rupiah bukan dipicu lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan akibat tekanan global yang memengaruhi mayoritas negara emerging market. Konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya suku bunga Amerika Serikat, dan arus keluar modal asing menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang.
Bank Indonesia mencatat fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen, inflasi terkendali di level 2,42 persen, dan neraca perdagangan tetap mencatat surplus. Kondisi tersebut dinilai menjadi penopang utama stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia dinilai masih memadai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Hingga Maret 2026, cadangan devisa tercatat mencapai US$148,2 miliar. BI juga melaporkan aliran modal asing kembali masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) setelah sempat terjadi arus keluar pada triwulan pertama tahun ini.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI telah menyiapkan sejumlah langkah penguatan. Salah satunya melalui intervensi intensif di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun offshore melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Bank sentral juga memperketat aturan pembelian dolar AS di pasar domestik. Ambang batas pembelian dolar tanpa dokumen underlying yang sebelumnya US$100 ribu diturunkan menjadi US$50 ribu dan akan kembali dipangkas menjadi US$25 ribu per bulan untuk meredam spekulasi valas.
Selain intervensi dan penguatan aturan valas, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga likuiditas pasar keuangan. Sejak awal tahun, BI tercatat telah membeli SBN di pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun sebagai bagian dari stabilisasi pasar keuangan domestik.
Perry juga menilai rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dibanding fundamental ekonomi nasional. BI optimistis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan nilai tukar berpotensi kembali menguat apabila ketidakpastian global mulai mereda.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

