
JAKARTA, INDONESIA TERKINI – Suasana aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat semakin padat dan tertata pada Kamis sore (27/8/2026). Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi long march menuju titik konsentrasi utama dengan merapatkan barisan serta membentuk formasi pagar betis saling mengaitkan lengan demi mencegah penyusupan oknum perusuh liar.
Langkah pengamanan mandiri ini diterapkan menyusul tingginya kekhawatiran adanya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang berniat menunggangi aksi damai mahasiswa dan warga daerah. Barisan mahasiswa dengan beragam warna jas almamater bergerak teratur menyusuri Jalan Gatot Subroto sembari menyuarakan yel-yel perlawanan terhadap korupsi dan ketidakadilan sosial.
Formasi Rantai Manusia dan Kerapatan Barisan Mahasiswa
Memasuki sore hari sekitar pukul 16.30 WIB, gelombang massa mahasiswa yang berkumpul di sekitar kawasan Semanggi dan TVRI mulai bergerak maju menuju depan gerbang Gedung DPR RI. Untuk menjaga ketertiban barisan, satuan tugas mahasiswa di barisan terluar langsung menginstruksikan peserta aksi untuk saling mengunci lengan (human chain).
Formasi barikade hidup ini dibuat berlapis guna membatasi akses masuk ke dalam lingkaran inti massa mahasiswa yang tengah membawa spanduk dan pengeras suara.
Sambil melangkahkan kaki secara serempak, mahasiswa serentak menyanyikan lagu “Darah Juang”, “Buruh Tani”, dan “Totalitas Perjuangan” yang menggema di sepanjang koridor Jalan Gatot Subroto.
Kedisiplinan barisan ini memberikan pemandangan kontras yang teratur di tengah riuh ribuan massa aksi yang telah memadati ruas jalan protokol sejak siang hari.
Mekanisme Skrining Ketat Tangkal Infiltrasi Perusuh
Penerapan formasi rapat ini merupakan respons langsung atas insiden penangkapan puluhan oknum pembawa senjata tajam dan bom molotov oleh aparat kepolisian pada Kamis pagi. Korlap mahasiswa tidak ingin perjuangan substansial mereka dicoreng oleh aksi anarkistis dari kelompok perusuh tanpa identitas.
Satgas internal aksi secara aktif melakukan pemindaian visual (sweeping internal) terhadap siapa saja yang mencoba masuk ke dalam lingkaran barisan mahasiswa.
Setiap peserta diwajibkan mengenakan jas almamater resmi atau menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang valid kepada koordinator fakultas masing-masing.
Individu yang berpakaian bebas serbahitam tanpa identitas kampus yang jelas dan bertindak mencurigakan langsung diarahkan ke luar dari perimeter barisan guna menghindari potensi provokasi.
Peleburan Massa Mahasiswa dengan Petani Kendeng dan Elemen Buruh
Setibanya di depan gerbang utama parlemen, rombongan long march mahasiswa langsung disambut hangat oleh massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), warga Bangkalan, Depok, serta aliansi serikat buruh yang telah bersiaga di lokasi. Kedua kubu massa aksi saling membuka jalan dan menyatukan formasi di depan mobil komando utama.
Penyatuan kekuatan ini memperkuat gaung penyuaraan tuntutan rakyat, khususnya desakan pengesahan RUU Perampasan Aset Tindak Pidana dan perlindungan ruang hidup agraria.
Perwakilan pimpinan BEM bergantian menaiki mimbar mobil komando bersama tokoh warga daerah seperti Botok Pati untuk membacakan pernyataan sikap bersama.
Kolaborasi ini menegaskan kembali bahwa aliansi gerakan mahasiswa dan rakyat tapak tetap solid mengawal komitmen DPR RI hingga batas akhir persidangan.
Disiplin Satu Komando dan Komitmen Aksi Damai hingga Petang
Koordinator aksi dari atas mobil komando terus mengingatkan seluruh peserta unjuk rasa untuk tetap berpegang teguh pada instruksi satu komando dan tidak terprovokasi oleh aksi pelemparan ke arah aparat keamanan. Mahasiswa menegaskan bahwa perjuangan mereka adalah penyampaian gagasan dan kritik kebijakan secara intelektual dan damai.
Di sisi lain, aparat kepolisian yang bersiaga di balik barikade kawat berduri merespons positif kedisiplinan barisan mahasiswa tersebut.
Tim negosiator kepolisian terus mengimbau agar massa tetap menjaga ketertiban fasilitas umum dan mengantisipasi batas waktu penyampaian aspirasi sesuai ketentuan hukum.
Hingga menjelang petang, konsentrasi massa di depan Gedung DPR RI terpantau padat namun tetap terkendali dalam barisan formasi yang rapat dan berdisiplin.
Aksi long march dan pembentukan pagar betis oleh mahasiswa di depan Gedung DPR RI menjadi bukti nyata kedewasaan gerakan masyarakat sipil dalam menjaga kemurnian perjuangan demokrasi. Melalui kesiapsiagaan menangkal provokasi perusuh, kedisiplinan barisan satu komando, serta sinergi erat bersama elemen petani dan buruh, penyampaian aspirasi 27 Agustus di Senayan berhasil menunjukkan wajah perlawanan yang bermartabat demi keadilan sosial dan tegaknya hukum di Indonesia.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.




