
Berdasarkan asumsi pemerintah dalam memperhatakan harga energi bersubsidi, Bank Permata memprediksi inflasi Indonesia pada akhir 2026 mencapai 3,13 persen secara tahunan (year-onyear/yoy). Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dari faktor dalam negeri adalah penetapan program Makan Bergizi Gratis (MBG), jumlah uang beredar serta faktor internasional seperti pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika dan kondisi geopolitik internasional.
Inflasi yang dihitung masih bersifat sementara. Resiko kenaikan inflasi masih dapat terjadi apabila terjadi kenaikan energi global secara terus menerus.
Faktor Domestik Jadi Pendorong Inflasi
Dari dalam negeri, Bank Permata menilai kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar (M2), sehingga memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan akan meningkatkan permintaan bahan pangan yang dapat memengaruhi kelompok harga bergejolak (volatile food).
Bank Permata juga mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi fenomena El Nino yang dapat mengganggu produksi pangan dan memperbesar tekanan inflasi hingga akhir tahun.
Konflik Global dan Rupiah Jadi Risiko Tambahan
Selain faktor domestik, risiko eksternal juga dinilai berpotensi memperkuat tekanan inflasi. Ketegangan di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) diperkirakan dapat menciptakan kondisi pasar yang lebih berhati-hati (risk-off), membatasi arus modal masuk, dan menekan nilai tukar rupiah.
Menurut Faisal, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku sehingga mendorong produsen mengalihkan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.
Berpotensi Pengaruhi Kebijakan BI
Bank Permata menilai proyeksi inflasi sebesar 3,13 persen masih dapat berubah apabila konflik geopolitik terus meningkat dan menyebabkan harga energi global melonjak dalam waktu lama. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan kepada pemerintah untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi.
Apabila tekanan inflasi semakin besar, peluang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) pada tahun ini juga dinilai meningkat. Saat ini, target inflasi Indonesia untuk 2026 tetap berada pada kisaran 2,5ยฑ1 persen, sehingga proyeksi Bank Permata masih berada dalam rentang sasaran tersebut.




