
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia turun sekitar 1 juta barel per hari sepanjang 2026. Jika proyeksi tersebut terwujud, konsumsi minyak global akan mencatat penurunan tahunan pertama sejak 2020, ketika pandemi Covid-19 menekan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat secara luas.
Dalam laporan pasar minyak edisi Juli 2026, IEA menilai pelemahan konsumsi terjadi di tengah perubahan besar pada pasar energi global. Gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, harga energi yang tinggi, serta tekanan terhadap aktivitas ekonomi telah mengurangi kebutuhan minyak di sejumlah negara. Asia menjadi salah satu kawasan yang mengalami penurunan permintaan paling besar.
China turut menjadi faktor penting dalam perubahan tersebut. Konsumsi minyak negara itu melemah setelah pengisian cadangan strategis berkurang, sementara penggunaan kendaraan listrik terus berkembang. Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap permintaan global, meskipun konsumsi bahan bakar di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, masih menunjukkan ketahanan.
Di sisi pasokan, kondisi pasar juga belum sepenuhnya pulih. IEA mencatat produksi minyak dunia meningkat 4,1 juta barel per hari pada Juni setelah arus pengiriman melalui Selat Hormuz kembali bergerak. Namun, volume pasokan masih sekitar 9,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum konflik. Situasi tersebut membuat keseimbangan pasar tetap rentan terhadap perubahan geopolitik.
IEA memperkirakan permintaan dapat kembali tumbuh sekitar 2 juta barel per hari pada 2027. Pada saat yang sama, pasokan global berpotensi meningkat lebih kuat apabila distribusi minyak melalui jalur perdagangan utama terus membaik. Namun, eskalasi baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengubah proyeksi tersebut.
Pergerakan permintaan dan pasokan menjadi perhatian pasar karena berpengaruh langsung terhadap harga minyak mentah, biaya energi, serta inflasi global. Bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, pelemahan konsumsi dunia dapat membantu meredakan tekanan harga apabila diikuti pasokan yang memadai.
Meski demikian, IEA menilai ketidakpastian masih tinggi. Perkembangan konflik, pemulihan arus perdagangan, kebijakan produsen minyak, dan kondisi ekonomi global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar energi hingga akhir 2026.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.



