
Tekanan jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,32% ke level 7.106,52 pada perdagangan Senin (27/4), di tengah arus keluar dana asing yang mencapai lebih dari Rp2 triliun. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang belum stabil, meskipun sejumlah saham mencatat penguatan. Di saat yang sama, sejumlah emiten tetap menunjukkan kinerja dan strategi korporasi yang agresif, termasuk pembagian dividen dan penetapan target ekspansi jangka menengah.
Secara sektoral, pergerakan indeks bervariasi. Sektor energi menjadi penekan terbesar dengan penurunan lebih dari 1%, sementara sektor industri dasar justru mencatatkan penguatan tertinggi. Di sisi lain, aksi jual bersih investor asing mencapai Rp2,01 triliun di pasar reguler dan Rp2,04 triliun secara keseluruhan, memperkuat tekanan terhadap indeks. Dari sisi global, bursa Amerika Serikat menunjukkan pergerakan campuran. Hal ini turut memengaruhi sentimen investor domestik, di tengah upaya otoritas pasar keuangan Indonesia menjaga kepercayaan investor melalui komunikasi dengan lembaga internasional. Di tengah kondisi pasar tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) memasang target kinerja yang ambisius untuk tahun 2026. Perseroan membidik pendapatan hingga Rp20 triliun dengan laba bersih minimal Rp2 triliun. Target ini didukung rencana penjualan domestik sekitar 1,2 juta ton per tahun. Untuk menopang strategi tersebut, KRAS menyiapkan pendanaan awal sekitar Rp5 triliun guna memperkuat modal kerja. Perusahaan juga berupaya memperoleh skema pembiayaan dengan bunga lebih rendah guna menekan beban bunga yang sebelumnya cukup tinggi.
Sementara itu, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp390,31 miliar atau setara Rp70 per saham dari laba tahun buku 2025. Nilai tersebut mencerminkan rasio pembayaran sekitar 68% dari total laba bersih Rp573,27 miliar.
Sebelumnya, perusahaan telah menyalurkan dividen interim Rp35 per saham. Dengan demikian, sisa dividen final sebesar Rp35 per saham akan dibayarkan setelah cum date pada 30 April, dengan jadwal distribusi pada 12 Mei. Kinerja DKFT ditopang oleh penjualan nikel yang menjadi kontributor utama pendapatan. Sepanjang 2025, penjualan perusahaan tumbuh lebih dari 7% menjadi Rp1,57 triliun, dengan laba bersih yang juga meningkat signifikan.
Tags: IHSG; PMA; Stabilitas pasar modal; IHSG Turun; Investasi
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.



