
PDI Perjuangan (PDIP) angkat bicara terkait prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar kehormatan di Lampung, termasuk momen ketika Jokowi menginjak kepala kerbau sebagai bagian dari rangkaian ritual adat. Partai berlambang banteng itu menegaskan kepala hewan yang diinjak merupakan kerbau, bukan banteng, sehingga tidak berkaitan dengan simbol resmi PDIP.
Politikus PDIP Guntur Romli menyampaikan bahwa pihaknya memahami kepala hewan dalam prosesi tersebut adalah kerbau yang memang menjadi bagian dari tradisi adat Lampung. Ia bahkan menyebut kerbau identik dengan istilah “Termul” atau “Ternak Mulyono”, bukan simbol banteng yang selama ini digunakan PDIP. Meski demikian, ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai sendiri makna dari prosesi tersebut apabila dikaitkan dengan dinamika politik nasional.
Pernyataan tersebut muncul setelah potongan video prosesi adat Jokowi di Lampung ramai beredar di media sosial. Dalam video itu, Jokowi tampak menjalani seluruh tahapan pemberian gelar adat, termasuk menginjak kepala kerbau yang telah disiapkan sebagai bagian dari ritual sebelum penyematan gelar kehormatan. Aksi tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi, termasuk dugaan adanya simbol politik yang diarahkan kepada PDIP.
Guntur Romli menegaskan PDIP tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan mengenai maksud di balik prosesi tersebut. Menurutnya, masyarakat dapat menilai sendiri apakah tindakan tersebut murni merupakan bagian dari adat istiadat atau memiliki makna lain di luar konteks budaya. Ia juga mengingatkan agar simbol partai tidak dicampuradukkan dengan prosesi adat yang memiliki nilai dan filosofi tersendiri.
Prosesi adat tersebut berlangsung ketika Jokowi melakukan safari politik di Lampung dan menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dari lima kerajaan adat Lampung. Seluruh rangkaian acara dipimpin tokoh adat setempat dan dihadiri para penyimbang adat, tokoh masyarakat, serta tamu undangan. Pihak penyelenggara sebelumnya menjelaskan setiap tahapan dalam prosesi memiliki makna filosofis yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Peristiwa itu menjadi perhatian publik karena terjadi di tengah memanasnya hubungan politik antara Jokowi dan PDIP pasca-Pemilu 2024. Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan dari Jokowi yang mengaitkan prosesi adat tersebut dengan simbol maupun pesan politik tertentu. Polemik yang berkembang lebih banyak dipicu oleh beragam tafsir publik di media sosial terhadap potongan video yang beredar.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.



