
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menjadi sorotan pasar setelah menetapkan pembagian dividen jumbo untuk tahun buku 2025. Di tengah besarnya nilai dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, perseroan menegaskan bahwa kebijakan tersebut tetap dirancang dengan menjaga keseimbangan antara imbal hasil (return) dan kebutuhan ekspansi bisnis jangka panjang.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 10 April 2026, BRI menetapkan total dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau setara Rp346 per saham. Angka tersebut sudah termasuk dividen interim Rp20,6 triliun yang telah dibayarkan lebih awal pada Januari 2026.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa keputusan pembagian dividen tersebut mencerminkan kinerja perseroan yang solid sekaligus konsistensi dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Ia menyebut bahwa fondasi utama yang menopang keputusan ini adalah kinerja laba yang kuat serta pengelolaan risiko yang terjaga.
“Pembagian dividen ini didasarkan pada kinerja perseroan yang tetap positif, yang ditopang oleh penguatan pada segmen UMKM sebagai core business BRI, serta akselerasi transformasi digital,” ujar Hery dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi perseroan.
Meski demikian, manajemen BRI juga menegaskan bahwa strategi dividen tidak dilakukan secara agresif tanpa mempertimbangkan kebutuhan ekspansi. Perseroan menilai penting untuk menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan memastikan ruang pertumbuhan bisnis tetap terbuka, terutama di sektor pembiayaan UMKM yang menjadi tulang punggung utama.
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menambahkan bahwa kombinasi antara dividen yang kompetitif dan penguatan fundamental perusahaan merupakan bagian dari strategi jangka panjang. Menurutnya, BRI tetap harus menjaga kapasitas modal agar mampu mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi.
Dari sisi kinerja, pembagian dividen ini didukung oleh laba bersih perseroan yang tercatat sekitar Rp56,65 triliun pada tahun buku 2025. Angka tersebut menjadi dasar kuat bagi BRI untuk tetap mempertahankan kebijakan payout yang tinggi tanpa mengganggu stabilitas permodalan.
Di pasar, langkah BRI ini dipandang sebagai strategi menjaga daya tarik saham di mata investor, terutama di tengah persaingan sektor perbankan yang semakin ketat. Dividen yang besar kerap menjadi faktor utama yang menopang minat investor ritel maupun institusi, meski sebagian analis tetap mengingatkan pentingnya keseimbangan antara distribusi laba dan reinvestasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
Dengan kebijakan ini, BRI menegaskan posisinya sebagai salah satu emiten perbankan dengan konsistensi dividen tinggi di Indonesia. Namun di saat yang sama, perseroan juga berupaya memastikan bahwa ekspansi bisnis—khususnya di segmen UMKM dan digital banking—tetap menjadi motor pertumbuhan utama di tahun-tahun mendatang.
Tags: saham bbri, dividen saham bbri, kabar saham bbri

