Home Berita LokalESDM Pastikan Proyek DME Tetap Berjalan Meski Ada Pengembangan CNG
ESDM Pastikan Proyek DME Tetap Berjalan Meski Ada Pengembangan CNG

ESDM Pastikan Proyek DME Tetap Berjalan Meski Ada Pengembangan CNG

by Jessie Evelyn Kartadjaja

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) tetap dilanjutkan meskipun pemerintah tengah mengembangkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG subsidi. Pemerintah menilai kedua program tersebut memiliki peran berbeda dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor LPG.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan CNG tidak akan menghentikan proyek DME yang selama ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional. Menurut dia, pemerintah justru mendorong berbagai sumber energi alternatif secara bersamaan untuk mempercepat substitusi LPG impor. 

“DME tetap jalan walaupun ada pengembangan CNG,” ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5). Ia menegaskan pemerintah membutuhkan banyak opsi energi agar ketahanan energi nasional tidak bergantung pada satu sumber pasokan saja. 

Proyek DME merupakan program hilirisasi batu bara yang ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar pengganti LPG. Pemerintah selama beberapa tahun terakhir mendorong proyek tersebut guna menekan impor LPG yang terus membebani neraca perdagangan dan subsidi energi negara. 

Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengembangkan penggunaan CNG dan liquefied natural gas (LNG) sebagai alternatif energi rumah tangga dan UMKM. Penggunaan CNG disebut dapat menghemat subsidi energi hingga sekitar 30 persen dibanding LPG subsidi 3 kilogram. 

Kementerian ESDM menilai pengembangan DME dan CNG dapat berjalan paralel karena keduanya menyasar penguatan kemandirian energi nasional. Selain mengurangi impor LPG, proyek DME juga diharapkan mendorong hilirisasi batu bara dan menciptakan nilai tambah industri domestik.

Pemerintah saat ini masih mendalami realisasi sejumlah proyek DME di beberapa daerah, termasuk Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. PT Bukit Asam (PTBA) bersama sejumlah calon mitra investor disebut masih melanjutkan pembahasan proyek hilirisasi batu bara tersebut. 

Meski demikian, proyek DME menghadapi tantangan besar dari sisi keekonomian. Sejumlah kajian menunjukkan harga produksi DME masih lebih tinggi dibanding LPG impor sehingga membutuhkan dukungan insentif dan skema subsidi agar kompetitif di pasar domestik. 

Pengamat energi menilai langkah pemerintah mengembangkan beberapa alternatif energi sekaligus merupakan strategi realistis untuk menjaga ketahanan energi di tengah gejolak global. Namun, mereka mengingatkan keberhasilan program DME dan CNG akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, harga jual yang kompetitif, dan dukungan investasi jangka panjang.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

Related Posts