
Kalangan pelaku usaha menyatakan keberatan atas kebijakan retensi 100 persen devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang akan mulai diterapkan pemerintah pada 1 Juni 2026. Dunia usaha menilai aturan tersebut berpotensi menekan arus kas eksportir dan memengaruhi operasional perusahaan, terutama sektor padat modal.
Keberatan itu muncul setelah pemerintah memperluas kewajiban penempatan DHE SDA di dalam negeri melalui sistem retensi penuh selama periode tertentu. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat cadangan devisa nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Pelaku usaha menilai kewajiban retensi 100 persen akan membatasi fleksibilitas perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pembayaran di luar negeri, termasuk pembelian bahan baku, cicilan utang, hingga kewajiban operasional internasional. Pengusaha meminta pemerintah mempertimbangkan skema yang lebih moderat agar aktivitas ekspor tidak terganggu.
Sejumlah asosiasi industri juga menilai implementasi kebijakan perlu disertai insentif yang memadai. Menurut mereka, eksportir membutuhkan kepastian terkait kemudahan penggunaan dana, tingkat bunga kompetitif, hingga fleksibilitas penempatan devisa agar tidak menambah beban usaha.
Di sisi lain, pemerintah memandang kebijakan tersebut penting untuk memperkuat likuiditas valuta asing domestik. Retensi penuh DHE SDA dinilai dapat meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri sehingga mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.
Pemerintah sebelumnya telah menerapkan kebijakan penempatan DHE SDA dengan persentase tertentu. Namun, mulai pertengahan tahun ini, cakupan retensi diperluas menjadi 100 persen terhadap devisa ekspor dari sektor sumber daya alam dalam periode penempatan yang telah ditentukan regulator.
Dunia usaha berharap pemerintah membuka ruang dialog lebih lanjut sebelum aturan berlaku efektif pada Juni mendatang. Pelaku industri menginginkan formulasi kebijakan yang tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional tanpa mengurangi daya saing eksportir Indonesia di pasar global.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

